March 19, 2013

Sunny dan London

Jatuh cinta pada Sunny itu seperti jatuh cinta pada kota London.

Jatuh cinta?
Ehm, bukan. Ini rasa suka.

Rasa suka pada Sunny itu seperti jatuh cinta pada kota London.
Ya, anggap saja kalimat itu setara.

Ini bukan sekedar analogi biasa ataupun pernyataan yang aneh dan tidak penting.
Ini cukup mempunyai arti.
Mungkin bukan untukmu, atau untuk Sunny.
tapi, untuk aku sendiri saja sudah cukup lah.

Aku dulu mencintai Paris yang megah dengan menara Eiffelnya yang terkenal.
Aku bisa langsung membayangkan bagaimana keadaan Paris di saat musim dingin.
Mengambil foto di bawah kaki Eiffel.
Menaiki Eiffel.
Mengamati Paris dari ketinggian Eiffel.
dan blablabla, selebihnya hanya itu yang aku ketahui tentang Paris.
Eiffel. Hanya Eiffel.

Beberapa hari setelah itu, sesuatu membuatku berkenalan dengan London.
Mengenal London dalam sehari seperti impianku untuk jatuh cinta pada pandangan pertama.
Menara Big Ben yang besar membuatku terkagum-kagum.
Belum lagi, telephone box yang berwarna merah di sepanjang jalan sanggup mencuri pandanganku. Bukan rahasia kalau aku juga jatuh cinta pada merah.
Kehidupan bangsawan Inggris yang penuh keanggunan dan keeleganan juga mengundang decak kagum.
Tidak bisa dipungkiri aksen orang Inggris cukup membuat geli telinga.
Apalagi beberapa musisi kebanggan mereka yang bisa menyita memori lumayan banyak di playlist.
London juga membuatku berkhayal tentang daun-daun berwarna coklat yang berguguran di jalan. Semenjak itu, aku sadar kalau aku lebih menyukai musim gugur dibanding musim dingin.
London itu kota yang menyenangkan.

Itu cerita tentang London dan kenapa aku bisa tiba-tiba jatuh cinta padanya tanpa aba-aba.
Apa aku perlu aku ceritakan tentang Sunny?
Oh, aku pikir Sunny dan London 2 hal yang sama.
:)

No comments:

Post a Comment